Yuni Vianingsih_Diklat PD AsNI Jabar_DPC Cimahi
Rusmindar Diniyani_DPC Cimahi
Issue stunting selalu menjadi perbincangan, prioritas perencanaan kegiatan, dan melahirkan berbagai inovasi kegiatan dibeberapa tahun belakangan ini. Peningkatan perhatian terhadap pola asuh, pola perawatan, pola pelayanan kesehatan, dan ketahanan pangan mendapat tempat yang terdepan dalam pemilihan program penanganan dan pencegahan. Pemenuhan kebutuhan zat gizi makro dan mikro menjadi suatu hal yang selalu diperhitungkan dalam setiap pemberian makanan tambahan baik berbasis bahan makanan lokal maupun pabrikan. Apakah rekan dan sahabat sudah membuat suatu inovasi di wilayahnya masing-masing?
Stunting yang menjadi sangat penting
Stunting pada balita dengan risiko terjadinya kesakitan, kematian dan perkembangan otak suboptimal sehingga terjadi perkembangan motorik terlambat dan terhambatnya pertumbuhan mental masih menjadi suatu permasalahan kesehatan masyarakat terutama di negara berpenghasilan rendah hingga menengah.1 Hal ini mengancam kualitas manusia, kemampuan daya saing bangsa yang sangat berpengaruh terhadap kemampuan, prestasi di sekolah, produktivitas, dan kreativitas di usia-usia produktif karena balita yang mengalami stunting yang tidak hanya terganggu fisiknya, namun juga terganggu perkembangan otak.2
Hasil Riskesdas tahun 2013, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 37,2% sedangkan pada tahun 2018 menurun menjadi 30,8%. Survei SSGBI pada 2019 oleh Balitbangkes Kemenkes RI dapat diketahui hasil prevalensi stunting di Indonesia menurun menjadi 27,67%.3 Berdasarkan SSGBI pada tahun 2019, 2021, 2022 prevalensi stunting di Jawa Barat yaitu 26,2%, 24,5%, dan menurun menjadi 21,6%. Kota Cimahi berdasarkan data SSGI 2021, 2022 sebesar 19,9% menjadi 16,4%. Prevalensi stunting di Indonesia belum mencapai target WHO karena masih di atas 20%.4, 5
Kondisi gagal tumbuh pada balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usia disebut stunting sejak dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir. Kondisi stunting biasanya baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun.6 Balita pendek (stunted) dan sangat pendek (severely stunted) adalah balita dengan panjang badan (PB/U) atau tinggi badan (TB/U) menurut umurnya dibandingkan dengan standar baku WHO-MGRS, sedangkan definisi stunting menurut Kementerian Kesehatan adalah anak balita dengan nilai Z-score <-2 SD (stunted) dan <-3 SD (severely stunted).7
Formulasi program percepatan dalam penurunan stunting mengarah pada intervensi berbasis keluarga yang berisiko stunting dengan menekankan pada penyiapan kehidupan berkeluarga, pemenuhan asupan gizi, perbaikan pola asuh, peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan serta peningkatan akses air minum dan sanitasi. Pilar kelima dari Strategi Nasional Penanganan Stunting yakni pemantauan dan evaluasi dinilai strategis dan penting sebagai upaya mengetahui dampak intervensi sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap penurunan masalah stunting.2
Kegiatan Inovasi penuh aksi
Upaya percepatan penurunan stunting banyak dilakukan yaitu gerakan 1000 hari pertama kehidupan sebagai saat yang penting menjadi titik awal peluang peningkatan gizi yang berdampak terbesar adanya stunting.8 Upaya diversifikasi pengembangan formula makanan tambahan dengan memperhatikan karakteristik gizi, manfaat kesehatan, akseptabilitas, daya tahan, dan keunggulan sumber daya pangan lokal dapat mengatasi masalah gizi pada balita ditangani seefektif mungkin. Penggunaan moring/ daun kelor sebagai pemanfaatan pangan lokal kaya akan zat besi, vitamin A, vitamin C, dan protein.9
Kegiatan PMT berbahan pangan lokal diharapkan dapat mendorong kemandirian pangan dan gizi keluarga secara berkelanjutan dimana Indonesia merupakan negara terbesar ketiga didunia dalam keragaman hayati.10 Penggunaan sumber zat gizi tambahan melalui pengembangan formulasi tanaman daun kelor sebagai bahan makanan tambahan merupakan solusi alternatif dalam pencegahan anemia dan stunting.
Kandungan gizi seperti protein, zat besi, vitamin C, dan mineral penting lainnya yang terdapat dalam daun kelor mudah diserap oleh manusia dan memiliki efek memberantas permasalahan malnutrisi dan kesehatan. Kandungan gizi daun kelor segar berdasarkan TKPI terdiri dari zat gizi makro dan miro yaitu energi 92 Kal, protein 5,1 g, lemak 1,6 g, karbohidrat 14,3 g, serat 8,2 g, zat besi 6 mg, Beta karoten 13,26 mcg, kalsium 1077 mg, fosfor 76 mg, zink 0,6 mg, vitamin B1 0,3 mg, vitamin B2 0,1 mg, vitamin B3 4,2 mg, vitamin C 22, dan air 75,5 g.11
PMT Posyandu merupakan PMT penyuluhan dengan kegiatan edukasi kepada masyarakat terutama ibu-ibu yang membawa balitanya ke posyandu yang mana makanan tambahan bergizi diberikan kepada sasaran untuk mempertahankan status gizi normal. Pada penyuluhan PMT posyandu kegiatan yang dilakukan yaitu penjelasan tentang triguna makanan dan mengenai makanan sehat serta manfaatnya bagi tubuh serta kesehatan dengan cara peragaan (demo) mengenai cara menyiapkan makanan sehat bagi ibu balita yang dilakukan oleh petugas dibantu oleh kader.13
Selain PMT Posyandu, pemberian daun kelor dilakukan kepada ibu hamil anemia sebagai upaya lebih ke hulu untuk mencegah stunting. Pemberian ekstrak kelor pada ibu hamil memberikan suplai zat gizi mikro yang melimpah antara lain Fe, vitamin A, vitamin C, dan selenium selama kehamilan. Diketahui bahwa tanaman kelor memiliki banyak unsur hara mikro dan unsur hara makro, yang memiliki kejaiban.14 Hasil inovasi Centing Bu Milan dengan pemberian daun kelor pada ibu hamil di Puskesmas Cibeureum menunjukkan ada peningkatan status gizi dari kadar HB.
Status gizi ibu hamil dapat dilihat dari status anemianya dari anemia menjadi tidak anemia sebanyak 90%. Hasil data KIA Puskesmas Cibeureum tahun 2022 menunjukkan Prevalensi kejadian ibu hamil menurun menjadi 63 kasus (5.38 %).15 Hasil inovasi ini sejalan dengan penelitian Isnainy (2019), yaitu terjadi kenaikan rata-rata Hb ibu hamil (30 orang) setelah diberikan ekstrak daun kelor ditambah madu dari kadar HB 10,17gr% menjadi 11,1gr%. Ekstrak daun kelor dimasukkan ke dalam kapsul (per kapsul 500 mg) dengan dosis 2 x 2 sehari selama 15 hari, yang diberikan bersama dengan madu.
Konsistensi, Koordinasi, dan Kolaborasi
Aksi konvergensi penanganan stunting dilakukan oleh semua bidang dan memasukkan kegiatan yang saling koordinasi, berkolaborasi dan terintegrasi. Sangat dibutuhkan lingkungan sosial yang mendukung kegiatan untuk mencegah dan mengatasi stunting mulai dari remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, baduta, balita, dan anak sekolah. Lingkungan sosial yang kondusif dengan cara hasil dari analisa masalah yang sudah mendapatkan cara penanganannya dengan diseminasi, kampanye, advokasi dan dijadikan suatu kebijakan di wilayah serta pelibatan media yang mendukung.
Kegiatan advokasi dilakukan kepada lintas program, lintas sektor, pemangku kebijakan di tingkat RT, RW, Kelurahan, sampai kecamatan lalu menjadi dasar kebijakan tingkat kota. Kebijakan kegiatan rutin PMT Posyandu berbasis pengolahan daun kelor yaitu Makalor adalah Makanan olahan daun kelor yang diberikan kepada semua balita di Posyandu berupa PMT yang diaplikasikan pada 29 posyandu. Inovasi ini tertuang di SK Puskesmas No. 440/10/PKM/2022. Pembuatan SK ini akan memperkuat kegiatan di wilayah secara administratif.
Kegiatan rutin pemberian PMT di Posyandu didampingi dengan edukasi berupa penyuluhan, konseling, pemberian leaflet, booklet tentang pemberian makanan bergizi terutama stunting dan olahan daun kelor. Pembukaan beberapa kelas yang berhubungan dengan ibu, balita yang tidak hanya diberikan oleh ahli gizi, melainkan petugas kesehatan lain, dan motivator yang berasal dari sasaran, kader, PKK minimal satu bulan satu kali di dalam dan luar gedung Puskesmas. Kelas edukasi ini telah mengalami perluasan di wilayah Puskesmas.
Hasil Kegiatan

Hasil pre-test dan post-test menunjukan dari 72 responden ibu balita dengan 10 pertanyaan menunjukkan ada peningkatan pengetahuan ibu balita. Hasil pemberian PMT penyuluhan posyandu dengan inovasi Makalor (makanan olahan daun kelor) ternyata dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang stunting dan PMT dibantu media leafleat, booklet kumpulan menu olahan daun kelor yang sudah dibuat oleh tenaga gizi. PMT posyandu ini menjadi salah satu upaya pengembangan daun kelor, baik pada ibu hamil atau ibu balita sebagai alternatif upaya pencegahan stunting.

Pembuatan Jadwal PMT Posyandu yang disepakati setiap awal tahun dengan kader posyandu telah disetujui oleh Kepala Puskesmas dan dijadikan pedoman dalam pembuatan PMT di semua Posyandu di Puskesmas Cibeureum. Resep PMT Posyandu tahun 2024 sudah mengalami pembaharuan yaitu dari bulan Januari-Desember : Putu Ayu daun Kelor, Puding Lumut Daun Kelor, Bolu Kukus Daun Kelor, Nugget Tong Dolor, Roti Rougout Goreng isi sayur kelor. Agar-agar Padalor, Pukis Budalor, Schootel Kendalor, Cookies daun kelor. Ragam resep yang dibuat berdasarkan kreasi dari Ahli Gizi dan masukan dari kader, masyarakat, serta petugas lainnya. Pembuatan jadwal PMT ini dilakukan disemua Posyandu yang ada di kota Cimahi namun setiap wilayah memiliki kreasi inovasi sesuai kondisi wilayah masing-masing.

Kegiatan PMT Penyuluhan di Posyandu memberikan dampak terhadap cakupan D/S (Ditimbang/Sasaran) bulan Januari – Desember 2023 di Puskesmas Cibeureum rata-rata di setiap bulannya sebesar 87.55% tahun 2022 yaitu 70.02 %, ada peningkatan sebesar 17.53%. Partisipasi masyarakat yang meningkat dapat menjadi indikator evaluasi apakah kegiatan disuatu wilayah dapat diterima dan diikuti masyarakat.
Selain itu cakupan N/D bulan Januari – Desember 2023 di Puskesmas Cibeureum rata rata di bawah target (76%) dan rata-rata cakupan N/D (Naik/Ditimbang) tiap bulannya adalah 61.65%, tahun 2022 adalah 52.84% ada peningkatan sebesar 8.81%. Cakupan N/D masih di bawah target namun sudah meningkat dari tahun sebelumnya, hal ini sudah menunjukan hasil evaluasi positif dari suatu inovasi. Penurunan berat badan balita dipengaruhi oleh asupan makanan, daya terima makan anak, pola asuh dan anak tidak sedang sakit.
Begitu pula target stunting berdasarkan SPM Kota Cimahi sebesar <10,1% tahun 2023 mengalami penurunan dari tahun 2020 sebesar 8,06%, tahun 2021 sebesar 7,43%, tahun 2022 sebesar 6,75% dan tahun 2023 menjadi 6,4%. Hal ini dapat terus di perbaiki dan dioptimalkan dalam setiap kegiatan. Selain dari kegiatan di masyarakat tetapi dalam administrasi pencatatan pelaporan baik dari kader Posyandu, memasukkan data di EPPGBM yang sudah divalidasi oleh petugas.
Kesimpulan
Pemberian PMT posyandu olahan daun kelor merupakan salah satu pencegahan stunting dengan adanya peningkatan pengetahun dan dengan media leafleat, booklet menu olahan daun kelor. Kegiatan rutin yang didasari oleh kebijakan dan didukung oleh berbagai lintas program dan sektor akan menguatkan program yang ada di suatu wilayah. Apapun kegiatannya, sekecil apapun aksi yang dilakukan bila dilakukan secara rutin, dievaluasi seberapa besar perubahan, dan di informasikan kembali kepada sasaran dan pemangku kebijakan akan membuahkan hasil yang ditargetkan.
Daftar Pustaka
- Aini, E. N., Nugraheni, S. A. and Pradigdo, S. F. (2018) ‘Faktor yang Mempengaruhi Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan di Puskesmas Cepu Kabupaten Blora’, Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip), 6(5), pp. 454– 461.Dini
- Aurima, J. et al. (2021) ‘Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita di Indonesia’, Open Access Jakarta Journal of Health Sciences, 1(2), pp. 43–48.Dini
- Kemenkes RI (2022). Buku Saku Hasil SSGI Tingkat Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota Tahun 2020. Jakarta.
- Kemenkes RI (2021). Buku Saku Hasil SSGI Tingkat Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota Tahun 2021. Jakarta.
- Kemenkes RI (2022). Buku Saku Hasil SSGI. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes RI 2022. Jakarta.
- Akbar, I. and Huriah, T. (2022) ‘Modul Pencegahan Stunting’, p. 22. Available at: http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/36596/Modul Pencegahan Stunting – EBOOK.pdf?sequence=1&isAllowed=y.
- PMKRI No. 2 tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak.
- Lokalitbangkes Pangandaran (2021) Laporan Akhir Model Penanganan Stunting dengan Integraso Program WASH dan Kecacingan 2021. Garut.
- Hendarto D. Khasiat Jitu Daun Kelor. Jakarta: Laksana; 2019
- Kemenkes RI . (2023) Petunjuk Teknik PMT Berbahan Pangan Lokal bagi Ibu Hamil dan Balita Edisi Revisi 2024. Jakarta.
- Kemenkes (2018b). Tabel Komposisi Pangan Indonenesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
- Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 Tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. Indonesia; 2019.
- Susilowati K. Gizi dalam Daur Kehidupan. Bandung: Refika Aditama; 2016
- Satriawati AC, Sarti S, Yasin Z, Oktavianisya N, Sholihah R. Sayur Daun Kelor Untuk Meningkatkan Kadar Hemoglobin pada Ibu Hamil dengan Anemia. J Keperawatan Prof. 2021;2(2):49–55
- Hadju V, Marks GC, Nontji W, Yusnidar, Hasni, Hafid RA, et al. Moringa oleifera leaf powder supplementation improved the maternal health and birth weight: A randomised controlled trial in pregnant women. Aust J Herb Naturop Med. 2020;32(3):94–101
Dokumentasi


Editor by M. Alfatih Alfien Al Farouq
Admin by Idiara Setya Yusdika
