Oleh
Dr. Taufik Maryusman, AMG, S.Gz, M.Pd, M.Gizi
Ketua AsNI 2026-2031
Sebagai Ketua Asosiasi Nutrisionis Indonesia (AsNI), saya memandang bahwa kekuatan AsNI tidak hanya terletak pada banyaknya gagasan, program, atau hasil rapat yang kita miliki. Kekuatan organisasi sesungguhnya terlihat dari seberapa jauh gagasan tersebut mampu kita wujudkan menjadi kerja nyata, memberikan manfaat kepada anggota, meningkatkan profesionalisme nutrisionis, dan menghadirkan kontribusi bagi masyarakat dan pembangunan kesehatan Indonesia pada akhirnya.
Karena itu, setiap keputusan, usulan, dan program yang lahir dari RAPAT KERJA NASIONAL AsNI lalu perlu melewati tiga prinsip utama:
JELAS — TERUKUR — DAPAT DIEKSEKUSI.
Kita ingin membangun budaya organisasi yang tidak berhenti pada kalimat “kita akan melakukan”, tetapi bergerak menuju “kita sedang mengerjakan dan menghasilkan.”
1. JELAS
Setiap gagasan harus diterjemahkan menjadi pekerjaan yang konkret.
Jangan berhenti pada kalimat:
“AsNI perlu melakukan kegiatan ini.”
“AsNI harus meningkatkan kompetensi anggota.”
“Kita perlu memperkuat organisasi.”
Semua gagasan tersebut harus diturunkan menjadi langkah kerja yang jelas.
Setiap program harus mampu menjawab:
Apa yang akan kita kerjakan?
Mengapa kegiatan tersebut penting bagi AsNI dan anggotanya?
Siapa yang menjadi penanggung jawab?
Siapa saja yang terlibat?
Kapan pekerjaan dimulai dan kapan harus selesai?
Apa langkah pertama yang harus dilakukan?
Misalnya, jika kita mengatakan:
“AsNI harus meningkatkan kompetensi nutrisionis.”
Maka gagasan tersebut perlu diterjemahkan menjadi program yang nyata, misalnya webinar ilmiah berkala, pelatihan kompetensi, seminar nasional, workshop, pengembangan modul, publikasi ilmiah, penguatan jejaring profesional, atau program peningkatan kapasitas anggota.
Di dalam organisasi, kejelasan adalah bentuk tanggung jawab.
Semakin jelas tujuan, pembagian tugas, jadwal, dan penanggung jawabnya, semakin kecil kemungkinan sebuah ide berhenti sebagai wacana.
Kita perlu membangun budaya bahwa setelah sebuah keputusan disepakati, semua orang memahami:
“Apa tugas saya setelah rapat ini?”
Lalu
LANJUTKAN……….
2. TERUKUR
Setiap kegiatan AsNI harus menghasilkan sesuatu yang dapat dilihat, dinilai, dan dipertanggungjawabkan.
Kita perlu membiasakan diri bertanya:
Apa output kegiatan ini?
Berapa target yang ingin dicapai?
Siapa penerima manfaatnya?
Apa indikator keberhasilannya?
Kapan program ini dinyatakan berhasil?
Sebuah program tidak cukup hanya dinilai dari:
“Kegiatannya sudah dilaksanakan.”
Kita perlu bergerak lebih jauh dengan menanyakan:
Apa perubahan yang dihasilkan?
Misalnya, keberhasilan program AsNI dapat diukur melalui:
- jumlah anggota yang berpartisipasi;
- jumlah nutrisionis yang memperoleh peningkatan kompetensi;
- terbentuknya jejaring atau kerja sama baru;
- tersusunnya pedoman, modul, rekomendasi, atau publikasi;
- meningkatnya keterlibatan anggota;
- terbentuknya kepengurusan wilayah atau daerah yang semakin aktif;
- terselenggaranya kegiatan pengabdian masyarakat;
- meningkatnya eksistensi dan kontribusi AsNI dalam isu gizi dan kesehatan nasional;
- serta semakin besarnya manfaat organisasi yang dirasakan langsung oleh anggota.
Prinsip kita sederhana:
Apa yang tidak memiliki ukuran akan sulit dievaluasi.
Apa yang tidak dievaluasi akan sulit diperbaiki.
Dan apa yang tidak diperbaiki akan sulit berkembang.
Karena itu, budaya organisasi AsNI harus bergerak menuju organisasi berbasis kinerja, hasil, dan dampak. (Dan kita sudah melakukannya melalui Keoorganisasian)
3. DAPAT DIEKSEKUSI
Rencana yang baik bukan hanya terdengar hebat ketika dipresentasikan dalam rapat.
Rencana yang baik adalah rencana yang dapat mulai dikerjakan setelah rapat selesai.
Sebelum sebuah program diputuskan, kita perlu memastikan:
Apakah orang yang mengerjakannya tersedia?
Apakah penanggung jawabnya sudah ditetapkan?
Apakah sumber daya yang dibutuhkan tersedia?
Apakah anggarannya realistis?
Apakah waktunya memungkinkan?
Apakah koordinasi antarbidang sudah jelas?
Apakah langkah pertama sudah ditentukan?
Program besar tidak selalu harus dimulai dengan sumber daya yang besar.
Sering kali sebuah perubahan besar justru dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Jika sumber daya kita terbatas, jangan berhenti.
Kita dapat memulai dari apa yang tersedia, membangun kolaborasi, memperkuat jejaring, membuka kemitraan, dan mengoptimalkan kekuatan seluruh anggota AsNI di berbagai daerah.
Yang paling penting adalah:
mulai bekerja.
Kalau setelah rapat kita masih bertanya:
“Siapa yang mengerjakan?”
“Mulainya kapan?”
“Apa yang harus dilakukan terlebih dahulu?”
maka keputusan tersebut belum cukup siap untuk dieksekusi.
AsNI bukan sekadar tempat kita berhimpun. AsNI harus menjadi ruang untuk tumbuh, berkarya, berkolaborasi, dan memberikan dampak.
Mari bergerak bersama.
Mari tumbuh bersama.
Mari besarkan Asosiasi Nutrisionis Indonesia dengan kerja nyata.
Bantu Kami (AsNI) Bapak/Ibu, dengan kerja nyata dan inovasi program yang dapat menjadikan AsNI NAIK KELAS.
Hormat Saya,
Ketua Asosiasi Nutrisionis Indonesia
